K.H Mosliem Rifa'i Imampuro atau akrab disapa Mbah Liem lahir di Pengging, Boyolali, Jawa Tengah pada tahun 1928. Masa kecil beliau dihabiskan di daerah tersebut. Semasa kecil, penduduk sekitar masjid memanggilnya Ndoro Muslim. Ketika beranjak remaja, Mbah Bakri Tepo Sumarto yang merupakan ayahnya tidak lagi membiayai pendidikan beliau, hingga akhirnya beliau bekerja sendiri menjadi buruh salah satu kios di Pasar Klewer, Surakarta, Jawa Tengah milik seorang keturunan arab.
Semasa remaja inilah beliau menyempatkan diri untuk mengenyam pendidikan di. Madrasah Manba'ul Ulum Surakarta, salah satu madrasah yang berada di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta. Madrasah ini mengalami perubahan kurikulum, dimana Manba'ul Ulum yang awalnya merupakan madrasah dengan model pengajaran tradisional atau kita kenal sebagai salaf, berubah menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA).. Pada saat perombakan kurikukulum sedang dilakukan, Mbah Liem masih berstatus sebagai salah seorang murid di sana. Karena PGA ini adalah lembaga yang ditujukan sebagai penghasil guru agama, atau pegawai kantor keagamaan yang salah satu kriteria para muridnya untuk bisa bicara dan berkomunikasi dengan jelas, maka Mbah Liem yang groyok (tak jelas bila bicara karena terlalu cepat menyampaikan kata) tak memenuhi syarat sebagai calon guru atau pegawai keagamaan dari sekolah tersebut beliau tidak dapat melajutkan pendidikanya. Meskipun demikian, Mbah Liem terbilang sebagai murid yang sanggup menguasai pelajaran buku-buku arab klasik atau kitab kuning. Hal ini berdasarkan pengakuan dari salah seorang guru beliau.
Kala berumur 20 tahun, selepas dari manba'ul ulum beliau memutuskan untuk melanjutkan peroses menimba ilmunya dari pondok ke pondok. Mulai dari Sukabumi, Majalengka, Malang hingga Madura.
Pada tahun 1959 beliau pindah ke Klaten. Pada mulanya beliau tinggal di dukuh Tegalrejo, Meger, Ceper, Klaten yang sudah bernuansa hijau (agamis). Beberapa bulan kemudian, (dengan beberapa pertimbangan) beliau pindah ke dukuh yang berada tepat di sebelah Tegalrejo, yakni Tegal Bedrek yang kemudian berubah namanya menjadi Sumberejo, Troso, Karanganom, Klaten yang Mayoritas penduduknya adalah kaum abangan atau masih sangat kental dengan budaya molimo dan kleniknya
Saat pindah inilah beliau diterima oleh salah seorang pemuka di sana yakni Mbah Iman dikromo. Mbah iman ialah termasuk salah satu dari tokoh di daerah tersebut. Melihat semangat dan spirit yang dibawa oleh mbah liem, mbah iman merasa ada hal yag luar biasa dari diri mbah liem, karena hal inilah Mbah Liem bisa diterima, bahkan diangkat sebagai anak.
Salah satu strategi pendekatan dakwah Mbah Liem adalah membangun tempat- tempat pembersihan desa seperti MCK, gorong-gorong, dan tempat tampungan sampah. Selain membangun tempat yang digunakan bebersih dan sesuci, Mbah Liem yang melihat Sumberejo belum mempunyai rumah ibadah berinisiatif membangun masjid.. Gagasan tersebut di sampaikan kepada Mbah Imandikromo dan disetejui. Setelah itu, Mbah Iman mewakafkan sebidang tanah di belakang rumahnya untuk kemudian dibangun Masjid di atas tanah tersebut.
Perjuangan yang dilakukan oleh Mbah Liem tidaklah instan, tidak semudah membalik roti di panggangan, namun sarat akan rintangan yang menghadang. Perjuangan yang dilakukan tidak langsung menjadi hal besar, namun beliau rintis sedikit demi sedikit melalui proses panjang, dan beliau melewatinya dengan istiqomah, sabar, dan dengan keyakinan penuh pada Allah SWT. Awal mula buah dari perjuangan beliau yang secara fisik dapat dirasakan adalah pendirian masjid pertama yang ada di desa Sumberejo (sebagaimana yang tertulis di atas). Masjid tersebut dinamai Masjid Jami Al-Muttaqien. Pembangunan masjid ini melibatkan hampir seluruh jamaah Mbah Liem. Bahkan Mbah Liem sendiri turut bekerja dalam pembangunan tersebut. Melalui masjid ini, beliau memberikan pengajaran keislaman yang mudah dicerna oleh masyarakat sekitar, utamanya melalui pujian-pujian yakni nyanyian yang berisi pemuliaan kepada tuhan dan pelajaran seputar keislaman.
Sosok ulama seperti mbah liem ialah ulama yang model pengajaranya lebih sering menggunakan metode dakwah bil hal, dengan memanifestasikan tata pengenalan ubudiyyah baik sesuci ataupun rukun-rukun sholat seperti Fasholatan yang berisi rukun wudlu dan rukuri sholat. Selain itu ada pujian Anak Anung berisi nasihat tentang gambaran manusia yang ideal. Hal lain yang beliau lakukan adalah pengajaran niat puasa ramadan yang dilantunkan bersama-sama oleh seluruh jamaah selepas salat tarawih, juga doa khas berbahasa jawa yang dilantunkan sesaat sebelum salat didirikan, biasanya setelah iqamat dan imam sudah menempati pengimaman. Semua itu adalah ajaran khas Mbah Liem yang melakukan dakwah bukan secara qouliyah saja seperti pengajaran di sekolah atau madrasah, namun secara haliyyah. Beliau juga bisa membaur, beradaptasi dengan masyarakat dan proporsional dalam menjalankan serta menyampaikan ajaran beliau yang dengan mudah sampai dan dipahami oleh jama'ahnya. Nah, jamaah desa inilah yang menjadi santri pertama Mbah Liem.
Setelah banyak mendapat simpati, Mbah Liem mengembangkan sayap dakwahnya pada bidang pendidikan dengan mendirikan Yayasan Al-Muttaqien. Yayasan Al- Muttaqien berdiri pada tahun 1986. Selain Mbah Liem, ada pula H. Maysuri dari Jungkare dan Kyai Yasin Habib dari Mlinjon yang turut mendampingi dalam mendirikan Yayasan Al-Muttaqien. Selain itu, beberapa jamaah Sumberejo juga turut andil dan mendampingi, terutama kelima orang terdekatnya dalam menjalankan dakwah, yang dijuluki oleh beliau dengan nama pendhowo limo, yaitu Pak Hamdani, Pak Sahuri, Pak Abu Thoyib, Pak Amirudin Farhani, dan Pak Rahmat Mulyono. Dalam perkembangannya Yayasan Al-Muttaqien menambahkan nama Pancasila Sakti di belakangnya. Ini terjadi pada saat Undang-Undang Yayasan mengalami perubahan ketika reformasi tahun 2000.
Setelah mendirikan yayasan yang menjadi payung hukum yang menaungi lembaga dibawahnya, pada tahun 1994, Mbah Liem mulai melebarkan sayap dakwah beliau ke ranah pendidikan formal. Saat proses pembangunan Madrasah sedang dilangsungkan, sempat Kyai Abdullah Salam dari Kajen, Pati rawuh dan menengok fondasi yang masih dalam proses pembangunan. Tahun 1994 didirikanlah Madrasah Aliyah Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Salah seorang yang turut serta berperan dalam pendirian madrasah adalah Kyai Yasin Habib. Pada tahun itu pula siswa angkatan pertama sekaligus menjadi santri pertama yang secara fisik-formal menempati pondok pesantren. Melalui lembaga formal, harapan Mbah Liem kedepannya terhadap para santri yang sekaligus siswa dapat menjadi Penjaga Moral Bangsa. Madrasah sebagai lembaga pendidikan, juga diharapkan Mbah Liem sebagai Kampus Kader Bangsa Indonesia. Melalui madrasah, Mbah Liem berharap kelak santrinya bisa menjadi orang-orang yang bermanfaat tak hanya bagi dirinya saja, namun bagi agama dan seluruh umat manusia. Sejalan dengan harapan Mbah Liem dalam mempersiapkan kader bangsa, beliau pun mengimplementasikan rasa cinta itu dengan jargon NKRI HARGA MATI.
Fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak bermunculan gagasan dari beberapa kolompok masyarakat yang ingin merubah sistem dan dasar negara, Sementara bentuk dan dasar negara indonesia saat ini adalah hasil kesepakatan dari para tokoh pendiri bangsa dan ulama'. Mbah liem dengan NKRI HARGA MATI nya memberikan sebuah pesan kepada para santri dan masyarakat indonesia pada umunya, bahwa mempertahankan negara yang menjunjung tinggi akan keberagaman dan kebhinekaan, adalah sebuah kewajiban mutlak bagi anak bangsa.
Sejalan dengan spirit yang di bawa oleh mbah liem, paham akan NKRI HARGA MATI pun menjadi sebuah ide-ide kebngsaan yang menjadi salah satu pertimbangan dari nahdlatul ulama dalam munas dan konbes nya yang di selenggarakan di sukorejo, situbondo.saat itu munas dan konbes NU membahas tentang asas tunggal pancasila sebagai dasar negara. Sehingga hasil munas dan konbes tersebut menyepakati untuk menerima pancasila sebagai sebuah pondasi tunggal dalam beragama, berbangsa dan bernegara.
Puji-pujian dan do'a qobla maktubah yang di karang oleh mbah lim.
Anak anung
Anak Anung Gedhe dhuwur lengkung-lengkung
Besok gedhe sugih ilmu dadi wong agung
Dadi wong tho'at serto bekti bopo biyung
Dadi wong pinter seneng weweh seregep tetulung
Rino wengi mempeng ngibadah kanti jungkung
Anggayohmring ridloni kang moho agung
Amin amin allah amin huya mu'in
Amin amin ya allah robbal 'alamin
Ketika Mbah Liem berziarah ke makam Sapuro, Pekalongan, beliau mendapatkan ilham untuk menggubah syi'ir bertajuk "Anak Anung". Anak Anung adalah suatu syrir (pujian) yang dipanjatkan menjelang iqamat. Isi dari pujian ini bukan hanya nyanyian, liriknya mengandung unsur doa dan pengharapan akan terwujudnya generasi penerus bangsa, menjadi pribadi yang selalu melakukan amal saleh secara vertikal kepada Tuhan sekaligus menjalankan kewajiban sebagai manusia biasa secara horizontal dengan menjalankan fungsi sosialnya, peka atas situasi yang tengah dihadapi bersama, berperan dalam suka duka dalam suatu komunitas, bahu membahu bersama, daa saling menjaga keharmonisan antar sesama umat manusia.Ketika Mbah Liem berziarah ke makam Sapuro, Pekalongan, beliau mendapatkan ilham untuk menggubah syi'ir bertajuk "Anak Anung". Anak Anung adalah suatu syrir (pujian) yang dipanjatkan menjelang iqamat. Isi dari pujian ini bukan hanya nyanyian, liriknya mengandung unsur doa dan pengharapan akan terwujudnya generasi penerus bangsa, menjadi pribadi yang selalu melakukan amal saleh secara vertikal kepada Tuhan sekaligus menjalankan kewajiban sebagai manusia biasa secara horizontal dengan menjalankan fungsi sosialnya, peka atas situasi yang tengah dihadapi bersama, berperan dalam suka duka dalam suatu komunitas, bahu membahu bersama, daa saling menjaga keharmonisan antar sesama umat manusia.
Mengajari tanpa menggurui, itulah kesan yang didapat bila kita mendengar pujian fasholatan yang berisi tuntunan rukun wudlhu dan sholat, Betapa tidak, bila mengingat situasi Sumberejo berpuluh tahun lalu, pengajaran bahasa arab dan ilmu keagamaan tak gencar seperti yang ada sekarang ini. Dulu, jamaah dan masyarakat yang ada bukanlah kalangan anak kecil yang mau begitu saja duduk dalam suatu ruang kelas, atau manut dan manggut belaka bila dinasihati. Jamaah ketika itu kebanyakan berusia hampir sama dengan Mbah Liem, bahkan lebih tua. Karenanya, bila pengajaran tentang rukun wuduMengajari tanpa menggurui, itulah kesan yang didapat bila kita mendengar pujian fasholatan yang berisi tuntunan rukun wudlhu dan sholat, Betapa tidak, bila mengingat situasi Sumberejo berpuluh tahun lalu, pengajaran bahasa arab dan ilmu keagamaan tak gencar seperti yang ada sekarang ini.
Dulu, jamaah dan masyarakat yang ada bukanlah kalangan anak kecil yang mau begitu saja duduk dalam suatu ruang kelas, atau manut dan manggut belaka bila dinasihati. Jamaah ketika itu kebanyakan berusia hampir sama dengan Mbah Liem, bahkan lebih tua. Karenanya, bila pengajaran tentang rukun wudu dan salat disampaikan dengan pengajaran ala sekolah madrasah, tentu kesan menggurui akan sangat kentara. Hal inilah yang dihindari oleh Mbah Liem. Beliau berusaha merendah hati, merendah diri, namun tetap mengajarkan ajaran agama dengan penyampaian yang lengkap dan jelas kepada khalayak. Istilah bahasa arabnya, Mbah Liem adalah sosok yang betul-betul muqtadhol haal, benar-benar menyesuaikan diri terhadap lawan bicaranya serta menghormati juga menghargai lawan bicaranya. Beginilah metode dakwah beliau yang sangat 'nguwongke uwong. Tidak merendahkan martabat yang didakwahi, sekaligus tetap menyampaikan ajaran dakwah secara gambling dan jelas bagi pendengarnya.dan salat disampaikan dengan pengajaran ala sekolah madrasah, tentu kesan menggurui akan sangat kentara. Hal inilah yang dihindari oleh Mbah Liem. Beliau berusaha merendah hati, merendah diri, namun tetap mengajarkan ajaran agama dengan penyampaian yang lengkap dan jelas kepada khalayak. Istilah bahasa arabnya, Mbah Liem adalah sosok yang betul-betul muqtadhol haal, benar-benar menyesuaikan diri terhadap lawan bicaranya serta menghormati juga menghargai lawan bicaranya. Beginilah metode dakwah beliau yang sangat 'nguwongke uwong. Tidak merendahkan martabat yang didakwahi, sekaligus tetap menyampaikan ajaran dakwah secara gambling dan jelas bagi pendengarnya.